Skip to main content

DAN


Dia yang omongannya ceplas-ceplos, kadang nyelekit bagi pendengarnya. Dia yang kurang bisa bersabar untuk berkomentar saat melihat sesuatu tidak pas di hatinya. Dia yang terkesan lebih banyak menggurui dalam berkomunikasi daripada mendengarkan. Dia yang banyak tetangganya enggan berinteraksi bersamanya… tiba-tiba datang dan memintaku untuk mendampinginya belajar membaca qur’an. Kaget bercampur gembira, saya langsung mengabulkan permintaannya. Dan, terbentuklah saat itu “kontrak belajar” dadakan untuk berupaya shalat magrib berjamaah di musholla setiap hari, dilanjutkan belajar mengaji. 

Satu tahun sudah proses belajar itu berjalan. Terbukti dua Ramadhan terlewati sejak pertama kali dia menghiaskan kembali bunyi Hijaiyah di bibirnya. Terbata-bata dalam ejaan kala itu, kini ia mampu menyuarakan susunan huruf Hijaiyah dalam kata dan kalimat dengan irama panjang-pendek yang sesuai, walaupun makhrajnya masih “njawani”. 

Dan tidak sekadar itu, yang menggembirakan adalah terlihat perubahan dhahir dalam prilaku ibadahnya. Ia bersemangat jamaah lima waktu di musholla. Dan lebih bersemangat lagi sepulang ia diminta ayah-ibunya untuk mendampingi keduanya umrah ke tanah suci sebulan yang lalu. Ghirrah spiritualnya tampak membuncah. Aura tanah haram terlihat cerah meliputi jasadnya. Pelbagai kegiatan sosial-keagamaan di kampung tak luput dari keikutsertaannya. 

Dan, doaku semoga, ia (dan kita semua) diberkahi kemampuan untuk istiqamah, sabar dalam perubahan menjadi lebih baik. Memulai kebaikan, memang tidak mudah. Namun sabar dalam menjaga keberlanjutannya lebih terasa berat tantangannya. Semoga..

Joyosuko Metro, 05/01/2018.    

Comments

Popular posts from this blog

POSITIF

Menjalani kehidupan tak ubahnya menyusuri ketidakpastian. Gelap, apa kan diperoleh hari ini. Pekat, kapan dan di mana kan dimatikan   raga ini . Ketakutan, ucap Jalaluddin Rumi, adalah keengganan menerima ketidakpastian. Padahal jika diterima, kan menjadi petualangan yang mengasyikkan.. Seperti biasanya, Kang Fik menghentikan Mitsubisi Jetstar tuanya di depan warung kopi langganan di pinggir jalan pulang seusai jenguk anak di pesantren. Yuk Na, istrinya, sebenarnya tidak setuju perjalanan terhenti, karena masih lima jam jarak tempuh sampai ke rumah. Namun filosofi kopi suaminya tak bisa ia bantah. Kopi penawar kantuk, kata Kang Fik. Kalau sopirnya ngantuk, tetap terhenti pula perjalanannya. *** Di warung kopi, Kang Fik tidak menemukan Mbah Yem, perempuan tua penyedu kopi yang sebulan lalu masih ia rasakan aroma nikmat adukan wedang kopinya di sini. Ia digantikan oleh Yuk Jem. Perempuan separoh baya yang mengaku sebagai putrinya.   “Mbah Yem ke mana Yuk? Kok, Sampean yang ganti...

KEBAIKAN YANG SIA-SIA

Penulis:  Hariman Muttaqin (Pengajar di Ponpes. Al-Iman Ponorogo) Ada pengusaha keturunan yang baik hati. Dia non-muslim. Anggota keluarganya menganut keyakinan yang beragam. Istrinya Kristen, anak dan menantunya Katholik.  Sementara dia sendiri   tidak   jelas.   Namun, dalam bermasyarakat   ia   sangat toleran. Baginya keyakinan apapun   tidak   masalah ,   yang penting baik sama orang. Jika mengantar istri ke gereja, dia lebih suka nongkrong di warung kopi. Ngobrol bareng sama makelar mobil, sesuai dengan hobinya: otomotif. Tapi kedermawanannya kepada sesama   tidak   perlu diragukan. Orang berimanpun kalah bahkan   seorang k iai atau   ustadz   sekalipun. Tetangga yang   kediamannya   disita bank, dia izinkan menempati salah satu rumahnya.   Gratis, t anpa sewa. Saya   sendiri   pernah   melihat langsung   kedermawanannya   ketika d ia   mem beli sendiri sarapan p...

VERI, HIJRAH DAN KEPASTIAN

Hari Rabu, 23 Januari 2019 pukul 3:17 AM, ada pesan whatsapp masuk di handphoneku. Satu pesan di WAG “Concordian”, inisial lulusan Gontor tahun 1993, dari Veri Agustian 693: “Innalillahiwainna ilaihi Raji'un telah berpulang ke Rahmatullah Veri Agustian... Alamat rumah duka jalan musyawarah gg mufakat no.2 labuh baru barat”( Sengaja dibiarkan, tanpa edit).  Pesan duka di hari yang masih terlalu pagi, sehingga belum ada anggota WAG yang daring. Selain itu, redaksinya juga terlalu datar untuk sebuah info sedih. Emosinya kurang terasa, dan terkesan aneh: menginformasikan wafatnya seseorang, dan informannya adalah orang yang meninggal itu sendiri. Wajarlah kiranya, jika baru sebelas menit kemudian, 3:28, Sirojuddin di Cirebon yang pertama menangkap pesan ini dengan pertanyaan singkat, mericeck sumber: “Ini dengan siapa?”.  Pukul 3:32, Zuli Umri di Bandung mempertegas kebimbangan: “Veri Agustian Riaukah? إنا لله وإنا إليه راجعون”.  3:42, Sirojuddin kembali menvalidasi sumber b...