Skip to main content

POSITIF


Menjalani kehidupan tak ubahnya menyusuri ketidakpastian. Gelap, apa kan diperoleh hari ini. Pekat, kapan dan di mana kan dimatikan raga ini. Ketakutan, ucap Jalaluddin Rumi, adalah keengganan menerima ketidakpastian. Padahal jika diterima, kan menjadi petualangan yang mengasyikkan..

Seperti biasanya, Kang Fik menghentikan Mitsubisi Jetstar tuanya di depan warung kopi langganan di pinggir jalan pulang seusai jenguk anak di pesantren. Yuk Na, istrinya, sebenarnya tidak setuju perjalanan terhenti, karena masih lima jam jarak tempuh sampai ke rumah. Namun filosofi kopi suaminya tak bisa ia bantah. Kopi penawar kantuk, kata Kang Fik. Kalau sopirnya ngantuk, tetap terhenti pula perjalanannya.

***

Di warung kopi, Kang Fik tidak menemukan Mbah Yem, perempuan tua penyedu kopi yang sebulan lalu masih ia rasakan aroma nikmat adukan wedang kopinya di sini. Ia digantikan oleh Yuk Jem. Perempuan separoh baya yang mengaku sebagai putrinya. 

“Mbah Yem ke mana Yuk? Kok, Sampean yang gantikan?” tanya Kang Fik.

“Iya, Mbah Yem sudah dua pekan ini sedang sakit, Kang” jawab Yuk Jem.

“Oh.. salam ya Yuk, dari saya Taufik. Semoga lekas sembuh” kata Kang Fik sambil ngunya gedang goreng.

Injih, Kang. Matursuwun..” ucap Yuk Jem singkat.

Serasa cukup istirahatnya, Kang Fik segera membayar wedang kopi dan gedang goreng yang sedang bergelut di perutnya. “Sepurane, Yuk. Ini sekadarnya untuk Mbah Yem. Mudah-mudahan bisa membantu meringankan pengobatannya” kata Kang Fik sambil memberikan 3 lembaran merah Soekarno-Hatta.

Injih, Kang. Matursuwun.. nanti saya sampaikan” ucap Yuk Jem.

***

“Kok banyak sih Pak, ngasihnya?” tanya Yuk Na, istrinya.

“ya… hitung-hitung sedekah, Bu” jawab Kang Fik sambil nyetir.

“Tapi ya tidak harus sebanyak itu kan? Lagian kita juga tidak mengenal baik Mbah Yem. Kita juga tidak bisa memastikan separah apa sakitnya..” gerutu Yuk Na.

“Niat sedekah kok perhitungan, Bu. Dalam perjalanan seperti ini, seharusnya kita banyak bersedekah. Ingat, kanjeng Rosul mengatakan sedekah itu bisa menolak bala” 

“Percaya sih, tapi…” belum selesai Yuk Na berucap, tiba-tiba mobil menunjukkan gejala mesin ngadat. Segera Kang Fik meminggirkan Jetstar tua kesayangannya itu di bahu jalan raya. Ia mencoba menyalakan mesinnya. Hanya bunyi ngek-ngek-ngekyang keluar. Hingga tiga kali, empat kali, lima kali bahkan lebihKang Fik mencoba menstarter, namun tetap sama. Ia mencoba ngeceks jarum bensin di speedometer masih terhenti di atas garis separoh. Demikian pula dengan lampu Aki, masih menyala hijau berbinar. 

“Apa ya, masalahnya? Padahal sudah diceks dan servis rutin sebelum perjalanan kemarin” ucap Kang Fik.

“Kurang banyak mungkin Pak, sedekahnya…” komentar Yuk Na, nyindir. Tampak ia masih belum bisa menerima tindakan suaminya.

“Istighfar bu… istighfar…” kata Kang Fik, “lebih baik Bune numpang duduk depan toko itu. Bapak kan cari bengkel terdekat. Lihat, mendung semakin gelap. Sebentar lagi mungkin kan turun hujan”. 

***

Kang Fik bertanya ke pemilik toko perihal bengkel atau montir terdekat. Ia ditunjukkan pada seorang montir yang rumahnya berjarak sekitar tiga kilometer. “Namanya pak Mo” jawab pemilik toko sambil menggambarkan posisi rumah beserta tanda dan ciri-cirinya. Tanpa membuang waktu, Kang Fik langsung memanggil ojek dan meminta mengantarkannya ke montir yang dituju. 

Ternyata tidak terlalu rumit menemukan rumah Pak Mo, karena ia montir yang cukup dikenal di kampungnya. Tampak Kang Mo sedang memperbaiki mobil tua bersama dua pembantunya. Setelah mengutarakan maksud dan permasalahan yang dihadapi, Kang Fik diminta untuk kembali ke mobilnya dan menunggu sang montir menyusul ke sana.

***

“Mana pak, montirnya?” tanya Yuk Na tidak sabar, “sudah setengah jam kita menunggu. Belum lagi ini sudah mulai gerimis”.

“Sabarlah, Bun” jawab Kang Fik, “mungkin ia menyelesaikan pekerjaannya dulu, baru ke sini”. 

Sementara itu hujan sudah mulai deras, bahkan cenderung lebat dan disertai angin. Dalam sekejap, genangan air terjadi di mana-mana lalu mengalir ke jalanan yang lebih curam bak banjir kecil. “Sampai kapan kita di sini, pak? Coba, tadi Bapak tidak mampir ke warung kopi..” gerutu Yuk Na, “mungkin kita sudah…”

“Sudahlah Bun.. Tidak elok kita menyesali begitu. Semua akan baik insyaAllah. Pasti ada hikmahnya” hibur Kang Fik.

“Hikmah apa, Paaak?” ujar Yuk Na, setengah sewot.

“Ya seperti ini, kita bisa kenalan dengan pemilik toko yang kita tumpangi ini hehehe” jawab Kang Fik, ngguyoni. Sementara Yuk Na masang wajah mencep.

Setelah hampir satu jam menunggu, Pak Mo, sang montir baru datang. Di tengah hujan deras, ia berbalutkan jas hujan kuning. “Maaf, Pak. Lama ya nunggunya. Mau cepat ke sini, ada saja kendalanya..” kata Pak Mo sambil berjalan menuju mobil yang ngadat. Kang Fik hanya tersenyum, sementara Yuk Na tetap berwajah mencep.

Di tengah hujan lebat, Kang Mo memeriksa Jetstar tua. Semua kemungkinan musabab kerusakan ia ceks. Tampak ia memang ahli mobil jadul. Ia tidak menemukan sesuatu yang aneh, segera ia menstarter mesinnya, dan clek greng. Mobil menyala normal. Sekali lagi, ia putar kunci ke kiri, mesin mati. Lalu putar ke kanan, clek greng, menyala lagi. Kang Mo segera pindah duduk ke kursi depan. Di belakang setir ia menjalankan mobil di jalan raya sejauh lima ratus kilometer dan kembali lagi ke lokasi Kang Fik dan isterinya. 

“Semua baik-baik saja, Pak” ujar Pak Mo, “tidak ada yang bermasalah. Bisa melanjutkan perjalanan, insyaAllah” lanjut Pak Mo sambil memberikan kontak mobil. Kang Fik tersenyum senang lalu menanyakan biaya perbaikan. Pak Mo tidak mau dibayar karena memang tidak ada yang perlu diperbaiki, namun Kang Fik tetap memberi sepantasnya. “Sekadar ganti bensin motor, Pak” ucap Kang Fik sambil berucap terima kasih.

***

Jarum jam sudah menunjuk angka tiga sore, sementara hujan masih turun dengan lebatnya. Yuk Na yang dari tadi tidak sabaran meminta suaminya segera melanjutkan perjalanan. Baru tiga puluhan menit mobil melaju di jalan, didapati beberapa mobil di depannya diminta warga sekitar untuk putar balik memilih jalur Ponorogo-Nganjuk-Kediri jika ingin menuju Tulungagung, Blitar atau Malang. 

Kang Fik segera membuka kaca jendela mobil dan bertanya tentang apa yang terjadi kepada salah satu warga yang menghampirinya. 

“Ada longsoran tebing secara beruntun, Pak, di tiga lokasi jalur Ponorogo-Trenggalek ini. Parah banget, tidak bisa dilewati sama sekali” jawab warga tersebut.

“Kapan terjadinya, Mas?” tanyak Kang Fik.

“Baru saja, Pak. Kurang lebih Dua Jam yang lalu..”

Alhamdulillah...” Sontak Kang Fik berucap setengah berteriak. Membuat warga itu kaget. Demikian pula Yuk Na, isterinya. 

“Ada bencana kok alhamdulillah” gerutu Yuk Na, “pantasnya ya inna lillah..”.

Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah menyelamatkan kami. MasyaAllah wa tabarakallah” ujar Kang Fik sambil mengusap wajah dengan kedua tapak tangannya.

“Apa maksudnya, Pak?” tanya Yuk Na, bingung.

Istighfar, Bun. Banyak-banyaklah beristighfar. Bune hari ini telah banyak berpandangan negatif pada Tuhan dan kehidupan” jawab Kang Fik, “Coba kalau kita tidak mampir ke warung kopi, lalu mobil ini tidak mogok, tidak menunggu lama kedatangan montir.. kemungkinan besar kita bisa terjebak atau tertimpa longsoran tebing tersebut. Alhamdulillah ya Rabb, sungguh benar ajaran Rasul-Mu: sedekah bisa menolak bala. Tidak perlu lama, Engkau membuktikannya di depan mata kami..”

Astaghfirullahal Adzim, astaghfirullahal Adzim, astaghfirullahal Adzim wa atubu ilaih” ucap Yuk Na, tersadar.[]

Joyosuko Metro, 08 Januari 2018.

Comments

Popular posts from this blog

PAK E.. PAK E… (MEMOAR INDAH DI BKSM GONTOR)

Oleh: Faruq Jamaluddin Malik (Ustadz di PP. Darul Ukhuwwah, Malang) Di antara prinsip belajar-pembelajaran yang ditekankan oleh Pondok Modern Darussalam Gontor [PMDG] sejak dulu kala adalah apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan dilakukan oleh santri haruslah bernilai pendidikan. Mungkin itulah yang oleh orang sekarang diteoresasikan dengan istilah   learning by doing, experiential learning , dan semacamnya. Dari itu, semua santri Gontor, termasuk santri senior yakni alumni yang ditugasi mengabdi sebagai ustadz seperti saya, juga diperankan, diberi “panggung” untuk merasakan langsung prinsip   life-based learning   di atas. Dan di antara “panggung” itu buat saya adalah menjadi “ mas’ul ” [penanggungjawab] di Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat [BKSM], selain tetap harus mengajar dalam peran sebagi ustadz. Hari itu, jam mengajar saya setelah istirahat pertama. Karenanya, paginya saya gunakan untuk membersihkan dan menyirami taman bunga di area BKSM. Tiba-tiba terdeng...

SEPATU BUTUT ANAKKU DAN TITAH KESEDERHANAAN ALA GONTOR

Penulis: Abdul Matin Bin Salman (Wali Santri Gontor & Warek I IAIN Surakarta) Sejak awal, saya tidak terlalu menekankan anakku diterima sebagai santri Gontor. Prinsip saya, seusai pendidikan dasar, anak-anak saya harus melanjutkan ke pesantren. Pesantren apapun itu. Karena saya yakin, tidak ada pesantren yang mendidik santrinya dengan cara yang tidak benar. Tidak mudah memang, menjadi orangtua di zaman   now . Banyak kendala waktu mendidik anak secara privat. Terlebih di zaman ketika teknologi telah merenggut banyak kesempatan kita untuk mendidik mereka secara langsung. Bahkan, sekalipun anak-anak bersama orangtua 24 jam, seringkali minim “kebersamaan” di antara mereka. Fisik memang terlihat dekat, tetapi hati dan pikiran saling berjauhan. Kekhawatiran itu semakin memuncak, ketika melihat fenomena kehidupan anak-anak seperti saat ini. Nama anakku Wael. Dia sekarang duduk di kelas IV Gontor I. Suatu hari, tepatnya tanggal 29-30 Desember 2018, kami sekeluarga mengunjunginya. Mes...

MENJADI ATAU MEMILIKI?

Membaca tulisan pendek Mardigu WP yang berjudul “INGIN AWET KAYA? Apa bedanya manusia yang “ the have ” dengan “ the rich ”?” mengingatkanku akan bukunya Erich Fromm, seorang psikoanalis sosial dari Jerman, yang berjudul To Have and To Be. Buku ini diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia oleh LP3ES. Saya mendapatkannya tahun 1996 di pasar buku bekas “Blok M”. Sebutan di kalangan mahasiswa saat itu untuk pasar ini. Diambil dari huruf pertama nama jalan di mana pasar ini berada, Jl. Majapahit, Kota Malang. Bersebelahan dengan pasar ikan, burung dan binatang, Splendid. Sekarang pasar buku seken ini dipindah ke Jl. Wilis. Pelapak langgananku ternyata juga ikut boyongan. Pak Nardi Namanya. Hingga saat ini masih jualan. Dua bulan yang lalu, saat aku mampir ke lapaknya, tampak ia mulai mengkader anak terakhirnya sebagai pelanjut. Darinyalah dahulu aku membeli buku Fromm ini. Bersama bukunya Bung Karno “Di Bawah Bendera Revolusi”. Juga beraneka edisi jadul majalah Prisma LP3ES, yang bagiku,...