Skip to main content

JANGAN SEPERTI NAPOLEON


Melakukan kilas balik kehidupan saat belajar di Gontor memang tidak pernah membosankan. Ada saja yang membuat saya tersenyum. Terasa, semua indah pada waktunya. Mungkin, karena kita ikhlas menerimanya…

Teringat saya pada beliau. Direktur KMI, Allâh yarham KH. Imam Badri. Dalam setiap tawjîhât wa irsyâdât jelang ujian pertengahan atau akhir tahun, beliau dengan gaya kocaknya selalu mengulang-ulang kisah Napoleon Bonaparte. Sampai-sampai secara pribadi, saya hafal isi taushiyahnya: “Jangan seperti Napoleon. Walaupun dia bisa menguasai separoh Eropa, tetapi takut menghadapi ujian”.

Benarkah Napoleon takut ujian? waAllâhu a’lam, saya sendiri belum pernah membaca biografinya. Namun Kyai Badri serasa menguatkan saya selama ini bahwa Napoleon yang takut ujian saja bisa menguasai separoh Eropa, apalagi kita-kita yang berani diuji. Pastilah bisa menguasai dunia. Karena, teringat Allâh yarham KH. Imam Zarkasyi pernah dawuh: “Ujian itu untuk belajar, bukan belajar untuk ujian”. Siapa yang berani diuji berarti dia berani belajar. Siapa berani belajar berarti berani berubah lebih baik. Siapa yang harinya selalu lebih baik dari kemarinnya, itulah manusia yang beruntung. Allâhumma shalli alâ Muhammad!

Joyosuko Metro-Malang, 24/09/2018

Comments

Popular posts from this blog

BERDAMAI

“Maafkan aku, Pak!” tulis Yuk Ni melalui telepon pintar dalam satu   chattingan . “Maaf untuk apa?” balas Kang Man, singkat. “Maaf atas semua keputusanku di masa lalu yang barangkali menyisakan rasa sakit di hatimu” “Hehehehe” tulis Kang Man sambil menambahkan icon kepala botak dengan mulut terbuka lebar tanda tertawa. “Mengapa tertawa? Saya serius, Pak!   Please deh! ” “Saya juga serius, Bu!” “Serius apa?   La wong   tertawa begitu?” “Ya, serius menertawakan masa lalu kita” “Tetapi, apa salahnya kalau saya meminta maaf?” “Tidak ada salahnya. Tetapi bagiku, tidak perlu” “Mengapa?” “Karena tidak ada yang salah dengan keputusanmu terhadapku di masa lalu yang perlu dimintakan maaf” “Tetapi kan Bapak pasti sakit hati karenanya.   Ngaku, hayoo.. ” “Benar, jujur saya tidak mau munafik. Ada sakit kala itu..” “Lha kan? Benar..”   “Sakit dan salah adalah dua hal yang berbeda. Salah harus dimintakan maaf, tetapi sakit… Justru di sinilah saya harus berterima kasih kep...

NGAGLIK, TAK LAGI OGLAK-AGLIK

Pulang. Selalu saja kurindukan. Ada yang bilang: Itulah ekspresi dari kesadaran batini. Bahwa hidup adalah proses perjalanan kembali. Dari dan kepada Allah, Sang Penganugerah kehidupan. Termasuk mudik lebaran kali ini. Setidaknya ada yang tak ingin dilupakan: sungkem orang tua; halal bi halal bersama kerabat seperanakan; reuni tipis teman sepermainan; dan napaktilas suasana kampung halaman. Desa tempat aku dilahirkan, namanya Ngaglik. Konon, menurut para sepuh: kapal-kapal Kompeni dahulu tidak bisa berlabuh di sini, karena terlihat dari kejauhan seperti daratan yang   iglik-iglik  (tinggi). Karenanya disebut Ngaglik.   waAllahu a’lam . Namanya juga legenda! Letak desaku sebelas kilometer dari kota Kabupaten Tuban. Ke arah timur menuju Paciran. Masih termasuk kecamatan Palang-Tuban. Sebelah utaranya langsung menghadap laut Jawa. Sebelah selatannya lahan pertambakan: ikan dan garam. Sebelah baratnya, berbatasan dengan desa Glodok. Dan sebelah timurnya, berdempetan dengan de...

ALHAMDULILLAH, HAJI LAGI BRO!

Dia sahabatku. Juga tetanggaku. Saiful Mustofa. Berangkat haji lagi. Tahun ini. Bersama isterinya.   Kemarin, sebelas Juli. Bertepatan Delapan Dzulqa’dah.   Isuk njemun,   dilepas dengan   selametan   plus   tasyakkuran . Ada tumpengnya. Ada bubur   abang nya. Juga soto dagingnya. Mengundang tetangga dan teman-teman. Penuh hikmat. Penuh haru. Penuh derai air mata. Satu-persatu hadirin dipeluk. Diminta maafnya.   Disuwun   restunya. Dimohon do’anya. Bacaan shalawat. Do’a-do’a keselamatan-kemabruran. Hingga dipamungkasi dengan kumandang adzan dan iqamat. Mengiringi keberangkatan. Sampai mempelai haji memasuki mobil pengantar. Mengingatkanku pada adzan-iqamat. Di tradisi pemakaman tertentu. Yang dibacakan saat melepas jenazah di liang lahat.   Tak terasa. Ikut berkaca-kaca pula mataku. Maklum, terbawa suasana kebatinan. Setidaknya karena dua hal. Suasana Kebatinan Lepas Haji Masa Lalu   Pertama . Sungguh aku tidak bisa membayangkan. Ba...