Skip to main content

VERI, HIJRAH DAN KEPASTIAN

Hari Rabu, 23 Januari 2019 pukul 3:17 AM, ada pesan whatsapp masuk di handphoneku. Satu pesan di WAG “Concordian”, inisial lulusan Gontor tahun 1993, dari Veri Agustian 693: “Innalillahiwainna ilaihi Raji'un telah berpulang ke Rahmatullah Veri Agustian... Alamat rumah duka jalan musyawarah gg mufakat no.2 labuh baru barat”( Sengaja dibiarkan, tanpa edit). 

Pesan duka di hari yang masih terlalu pagi, sehingga belum ada anggota WAG yang daring. Selain itu, redaksinya juga terlalu datar untuk sebuah info sedih. Emosinya kurang terasa, dan terkesan aneh: menginformasikan wafatnya seseorang, dan informannya adalah orang yang meninggal itu sendiri.

Wajarlah kiranya, jika baru sebelas menit kemudian, 3:28, Sirojuddin di Cirebon yang pertama menangkap pesan ini dengan pertanyaan singkat, mericeck sumber: “Ini dengan siapa?”. 

Pukul 3:32, Zuli Umri di Bandung mempertegas kebimbangan: “Veri Agustian Riaukah? إنا لله وإنا إليه راجعون”. 

3:42, Sirojuddin kembali menvalidasi sumber berita: “Ust. Yang Wa siapa? Istrinya?”. 

3:49, Munawir di Klungkung Bali mengajak pecahkan keraguan ini: “ayo yg dekat sgra memastkn info ni......hoaxkah???”. 

3:50, Sirojuddin menguatkan: “Bener stadz”. 

4:07, Akmalus Syamail di Bogor menyempatkan diri merujuk ke buku agenda Concordian: “Ana cari di agenda nama veri agustin gak ada”. 

4:24, Munawir berserah di atas ragu: “innalillahiwainnailaihi rojiun....moga Allah ridho kpdx n kluargx dberi keikhlasan n ktabahn, amin”. 

4:29, Heru di Tegal menjawab Akwal: “Lulusnya setelah kita”. 

4:35, Fahmi di Cikarang ikut mendoakan, walau masih dalam ragu: “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun... Semoga beliau husnul khotimah..”. 

4:35, al-Ghazali di Jakarta mengikuti: “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun”. 

4:36, Fahmi kembali berharap keraguan ini bisa segera dihancurkan: “Mohon yang punya akses ke tempat beliau dapat memberikan informasi...”. 

Lalu, layar handphoneku kembali padam, hening, tanpa ada dalil yang mampu memverifikasi dan menvalidasi berita. Sang informan, tidak kembali. Menggantung pesan duka di atas keraguan nalar insania.

Hingga tiba pukul 4:52, handphoneku kembali bersuara. Fahmi membawa info kepastian di WAG Concordian: “Barusan ana kontak nomor beliau, dan diangkat oleh istrinya.. Ternyata infonya memang benar akhuna very telah wafat...”. Lalu bersusulan kemudian ucapan belasungkawa dan haturan doa dari Concordian teruntuk sahabat dan saudara sealmamater, Veri Agustian yang jasadnya terbujur dingin di Riau dan ruhnya insyaAllah dengan senyum sedang kembali ke Muasalnya, Allah Sang Maha Indah, Pemilik Segalanya.

Di luar dunia maya, Concordian Jogja, Kaji Towi, dengan cepat berburu informasi tentang dua anak almarhum yang sedang nyantri di Gontor Putri, Mantingan Ngawi. Menyambut dan menghibur keduanya di bandara Djogja sebelum terbang untuk melihat jenazah sang ayah terakhir kali. Concordian Riau di bawah komando Defizul juga dengan sigap bertakziyah ke rumah duka hingga mengantarkan jenazah almarhum ke peristirahatan terakhir. Uploadan photo dan videonya, yang selalu update dari lokasi serasa membetot kesadaran seakan ikut berada di sana. Menambah khusuk setiap iringan doa. Tanpa terasa mata mulai berkunang-kunang saat menyaksikan dalam video pendek detik-detik sang anak mengecup kening jenazah ayahnya. Mengingatkanku pada peristiwa yang hampir sama di tahun 1999. Dua bulan sebelum wisuda S1, aku dijemput keluargaku pagi dini hari tanpa pemberitahuan sedikitpun tentang kepergian ayahku yang tiba-tiba. Ah, tumpah juga air mataku… Dan bersamaan dengan itu, bergulir kemudian terutama di WAG “Akademisi Concord” donasi dari para sahabat untuk SPP anak-anak almarhum.

Sungguh suasana ukhuwwah yang teramat indah tampak nyata di hari ini. Kepastian kembalinya Veri ke haribaan Ilahi setidaknya telah membuat WAG “Concordian” untuk sementara bisa istirahat dengan damai dari hiruk-pikuk polemik pilpres yang sungguh lebih sering menyisakan banyak hati yang terluka daripada menguatkan ukhuwwah. Kepastian berangkatnya almarhum menuju Sang Rabbi di hari ini bagiku adalah peringatan kuat bahwa libido politik hanyalah duniawi, sementara dan fana belaka. Kematian itulah yang pasti. Serasa aku sedang berbaris menunggu panggilannya, yang seringkali terdengar tiba-tiba. Tanpa sedikitpun ada pertanda.

Siapa bisa memastikan kalau reuni perak Concord, 30 Nopember – 2 Desember 2018 adalah hari-hari terakhir perjumpaan almarhum dengan kita? Teringat almarhum tampak sumringah di hari itu. Tanpa ada tanda sakit . Ia duduk persis di depanku, sangat khusuk menyimak taushiyah Abana KH. Hasan Abdullah Sahal di aula Wisma Darussalam saat itu. Seminggu sebelum reuni, almarhum sempat berbincang lama denganku via telepon tentang rencana perjumpaan saat sama-sama menghantar anak –anak kembali ke Mantingan seusai liburan nishf as-sanah; tentang rencana liburan keluarganya ke Malang; tentang peluang dan kemungkinan almarhum bisa melanjutkan studi S3 melalui beasiswa 5000 Doktor Kemenag RI sepertiku; dan tentang ikhtiyar hijrahnya dari jeratan sistem ribawi dalam kehidupan ekonominya. Ia pernah mengatakan, saat sedang berada di suasana yang sangat bagus untuk karirnya di perbankan, justru almarhum memutuskan berhenti bekerja dari pusat riba itu dan berhijrah menjadi wirausahawan dalam produksi kerupuk dan abon yang berbahan lele.

Inna lillahi wa inna ilahi rajiun, kini arwah almarhum benar-benar telah hijrah dengan indah kembali ke Pemiliknya. Sungguh almarhum orang baik, dan saya menyaksikannya. Allahumma ighfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu![]

Joyosuko Metro, 24 Januari 2019.

 

Comments

Popular posts from this blog

PAK E.. PAK E… (MEMOAR INDAH DI BKSM GONTOR)

Oleh: Faruq Jamaluddin Malik (Ustadz di PP. Darul Ukhuwwah, Malang) Di antara prinsip belajar-pembelajaran yang ditekankan oleh Pondok Modern Darussalam Gontor [PMDG] sejak dulu kala adalah apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan dilakukan oleh santri haruslah bernilai pendidikan. Mungkin itulah yang oleh orang sekarang diteoresasikan dengan istilah   learning by doing, experiential learning , dan semacamnya. Dari itu, semua santri Gontor, termasuk santri senior yakni alumni yang ditugasi mengabdi sebagai ustadz seperti saya, juga diperankan, diberi “panggung” untuk merasakan langsung prinsip   life-based learning   di atas. Dan di antara “panggung” itu buat saya adalah menjadi “ mas’ul ” [penanggungjawab] di Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat [BKSM], selain tetap harus mengajar dalam peran sebagi ustadz. Hari itu, jam mengajar saya setelah istirahat pertama. Karenanya, paginya saya gunakan untuk membersihkan dan menyirami taman bunga di area BKSM. Tiba-tiba terdeng...

SEPATU BUTUT ANAKKU DAN TITAH KESEDERHANAAN ALA GONTOR

Penulis: Abdul Matin Bin Salman (Wali Santri Gontor & Warek I IAIN Surakarta) Sejak awal, saya tidak terlalu menekankan anakku diterima sebagai santri Gontor. Prinsip saya, seusai pendidikan dasar, anak-anak saya harus melanjutkan ke pesantren. Pesantren apapun itu. Karena saya yakin, tidak ada pesantren yang mendidik santrinya dengan cara yang tidak benar. Tidak mudah memang, menjadi orangtua di zaman   now . Banyak kendala waktu mendidik anak secara privat. Terlebih di zaman ketika teknologi telah merenggut banyak kesempatan kita untuk mendidik mereka secara langsung. Bahkan, sekalipun anak-anak bersama orangtua 24 jam, seringkali minim “kebersamaan” di antara mereka. Fisik memang terlihat dekat, tetapi hati dan pikiran saling berjauhan. Kekhawatiran itu semakin memuncak, ketika melihat fenomena kehidupan anak-anak seperti saat ini. Nama anakku Wael. Dia sekarang duduk di kelas IV Gontor I. Suatu hari, tepatnya tanggal 29-30 Desember 2018, kami sekeluarga mengunjunginya. Mes...

MENJADI ATAU MEMILIKI?

Membaca tulisan pendek Mardigu WP yang berjudul “INGIN AWET KAYA? Apa bedanya manusia yang “ the have ” dengan “ the rich ”?” mengingatkanku akan bukunya Erich Fromm, seorang psikoanalis sosial dari Jerman, yang berjudul To Have and To Be. Buku ini diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia oleh LP3ES. Saya mendapatkannya tahun 1996 di pasar buku bekas “Blok M”. Sebutan di kalangan mahasiswa saat itu untuk pasar ini. Diambil dari huruf pertama nama jalan di mana pasar ini berada, Jl. Majapahit, Kota Malang. Bersebelahan dengan pasar ikan, burung dan binatang, Splendid. Sekarang pasar buku seken ini dipindah ke Jl. Wilis. Pelapak langgananku ternyata juga ikut boyongan. Pak Nardi Namanya. Hingga saat ini masih jualan. Dua bulan yang lalu, saat aku mampir ke lapaknya, tampak ia mulai mengkader anak terakhirnya sebagai pelanjut. Darinyalah dahulu aku membeli buku Fromm ini. Bersama bukunya Bung Karno “Di Bawah Bendera Revolusi”. Juga beraneka edisi jadul majalah Prisma LP3ES, yang bagiku,...