Skip to main content

WAKTU, AMAL SHALIH DAN KEABADIAN


Serasa baru kemarin kita menyaksikan perayaan tahun 2018, kini kita sudah melihat lagi kegembiraan yang sama oleh manusia sejagad dalam menyambut tahun baru 2019. Apakah ada salah dalam keriangan menyambut hari baru, waktu yang baru? Tentulah yang demikian mubah saja, sepanjang manifestasi tindakan perayaannya tidak menyerupai tradisi agama lain, atau keluar dari batas syariat yang ditetapkan Islam.

 Namun, laku alam selalu mengajarkan harmoni. Bahwa bersama keramaian, selalu membonceng kesunyian. Di balik setiap kegembiraan, sesungguhnya mengintip kesedihan. Pun bersama setiap kegirangan menyambut tahun baru, sesungguhnya ada nurani yang selalu berbisik dalam sunyi: Lakukanlah perjalanan panjang dalam diri. Sesiapa mengenal dirinya, dia kan mengenal Tuhannya..

 Untuk itulah pada kesempatan yang singkat ini, dan terkait dengan pergantian tahun baru masehi, ijinkan saya mengajak untuk melakukan satu perenungan tentang “waktu, amal saleh dan keabadian”

 Mari kita mulai dari kandungan al-Qur`an. Sebagai kitab yang kita yakini paling otoritatif kebenarannya, bagaimana kata waktu digunakan di dalam ayat-ayat-Nya. Ada 3 ayat yang jelas-jelas menggunakan kata “al-waqt”. Yaitu QS. Al-A`raf [7]:187, QS. Al-Hijr [15]:38, dan QS. Shad [38]:81.

 Mari kita tilik yang pertama, QS. Al-A’raf [7]: 187. Allah berfirman:

 يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي لاَ يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلاَّ هُوَ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لاَ تَأْتِيكُمْ إِلاَّ بَغْتَةً يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللّهِ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ

 

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu ada di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".

 Berikutnya QS. Al-Hijr [15]:38, dan QS. Shad [38]:81, keduanya memiliki redaksi yang sama, di mana Allah berfirman:

إِلَى يَومِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ

”sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)"

 Jika diperhatikan, kata “waqt” dalam seluruh ayat tersebut digunakan dalam konteks pembicaraan masa akhir hidup manusia. Karenanya, pakar bahasa Arab dan Tafsir al-Qur`an seringkali mengartikan kata “waqt” dengan batas akhir dari masa yang seharusnya digunakan untuk bekerja keras.

 Ini berbeda dengan definisi KBBI, di mana waktu diartikan dalam konteks peng-kotak-an (penyekatan) sebagai masa lalu, sekarang, dan akan datang. Menurut KBBI, waktu adalah “seluruh rangkaian saat yang telah berlalu, sekarang, maupun yang akan datang”

 Keberbedaan 2 definisi tersebut mengisyaratkan titik tekan dan cara pandang yang berbeda tentang waktu. KBBI (dan kebanyakan kita) memandang “waktu” pada aspek simbol penyekatan-nya secara kuantitatif dalam detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, tahun dan abad.  Akibatnya kita lebih senang berbangga dengan jumlah waktu yang telah kita lalui dan acuh dengan kualitas penggunaannya. Setiap tahun misalnya, kita senang merayakan hari kelahiran, dengan lilin berbentuk angka usia kita, seakan menunjukkan pada dunia bahwa sepanjang itulah kita sudah menjalani kehidupan, namun kita lupa: apakah sepanjang itu, usia kita diisi dengan karya berkualitas kebajikan

Sedangkan al-Qur`an, lebih menekankan pada kita sebagai pembacanya, tentang kaitan yg demikian tegas antara waktu dan gerak amal kebajikan. Agar seiring perjalanan hidup ini, kita lebih fokus pada seberapa besar kualitas karya kebajikan yang bisa kita persembahkan kepada Dzat Yang Maha Baik.

 Selain kata “al-waqt” untuk menunjuk masa, di dalam al-Qur`an, juga digunakan kata “al-’Ashr”. Kata “al-Ashr” ini hanya digunakan sekali dalam al-Qur’an, tepatnya dalam QS. Al-Ashr [103]: 1. Walaupun hanya sekali digunakan, namun terasa lebih tegas dari “al-waqt” dalam menunjukkan kaitan waktu dengan kerja keras. “al-’Ashr” berasal dari akar kata yang berarti “memeras/menekan sekuat tenaga, sehingga bagian terdalam dari sesuatu dapat keluar dan nampak dipermukaan”. Al-Qur’an menamai waktu dengan “al-Ashr” karena manusia dituntut untuk menggunakannya dengan sekuat tenaga, memeras keringat, sehingga sari kehidupan ini dapat diperoleh. Masa menjelang terbenamnya matahari juga disebut “ashr” atau waktu asar dalam budaya kita, karena saat itu seseorang telah selesai memeras tenaganya. Minuman Jus yang menyegarkan tubuh kita, dalam bahasa Arab disebut “’Ashir”, seakar dengan “al-Ashr”, karena merupakan air dari buah yang diperas sedemikian kuatnya. Jadi bicara tentang waktu, al-Qur’an lebih menekankan pada implikasinya tentang gerak yang seharusnya dilakukan. Yaitu kerja keras, membanting tulang sekuat tenaga dalam menghasilkan karya-karya kehidupan yang berkualitas kebenaran, kebajikan dan keindahan.

 Untuk itulah, Allah bahkan bersumpah: wal Ashr! (Demi masa!), innal insana lafi khusyr (sesungguhnya manusia seluruhnya benar-benar dalam kerugian). Rugi karena tidak mau menggunakan waktunya untuk bekerja keras dalam kebajikan. Lalu tiba-tiba tanpa disadari telah berada di penghujung waktu asar. Rasulullah SAW bersabda: “Dua nikmat yang sering dilupakan (disia-siakan) banyak manusia, kesehatan dan waktu”. Sayyidina Ali ra pernah berujar: “Rezeki yang tidak diperoleh saat ini masih dapat diharapkan lebih dari itu untuk diperoleh esok hari, tetapi waktu yang berlalu sekarang ini tidak mungkin dapat diharapkan kembali esok nanti”. Itulah kita, dalam ancaman kerugian yang besar terkait dengan waktu yang tidak termanfaatkan. Allah menegaskan, hanya ada  4 kriteria orang yang mampu terhindar dari kerugian tersebut, yaitu: alladzina amanu (mereka yang menyakini dan amat mengenal kebenaran, di mana puncak kebenaran adalah Allah SWT); Wa ‘amilush sholihat (mereka yang bekerja keras mengamalkan kebenaran dalam wujud kesalihan-kesalihan); Wa tawashow bil haq (mereka yang mau berbagi dan mengajarikan kebenaran kepada sesama); dan Wa tawashow bish shobr (mereka mau berbagi dalam kesabaran dan ketabahan saat mengamalkan dan mengajarkan kebenaran)

 Demikianlah, 4 kriteria orang yang dijamin tidak merugi seiring taqdir waktu yang terus melaju dan ia bisa memanfaatkannya dengan karya-karya kebajikan. Bagaimana dengan kita? Apakah selama ini telah memanfaatkan waktu kehidupan kita untuk menghasilkan karya-karya kebajikan? Jika belum, senyampang masih ada waktu, mari kita bergegas, bersegera, berlomba dalam karya kebajikan.

 Bicara tentang waktu dalam kaitannya dengan karya kebajikan sebagaimana yang dikonsepkan dalam al-Qur’an, di sisi lain sebenarnya juga terkait dengan narasi tentang keabadian dan kesementaraan. Definisi KBBI yang mengaitkan waktu dgn masa lalu, kini dan akan datang menunjukkan tentang kesementaraan semesta. Pengertian tersebut bersifat kuantitatif, bisa dihitung, dan tentunya berbatas. Sesuatu yg berbatas, tentulah ia fana dan sementara.  Sedangkan konsep al-Qur’an tentang waktu yang dikaitkan dengan gerak dan amal kebajikan menunjukkan sifat kualitatif dan tidak berbatas.

 Dari itu, Ibnu Arabi memberikan ilustrasi: Semesta adalah seperti reruntuhan. Ia fana. Suatu saat akan lenyap tak berbekas. Namun, ada suatu pengecualian. Kita bisa memisalkan reruntuhan tersebut dahulunya adalah suatu rumah. Rumah adalah lahan yang sangat potensial untuk melakukan amalan kebaikan. Dalam konteks kita sebagai manusia, rumah ini tak lain adalah jasad kita. Jika jasad melakukan amalan baik dengan penuh kesadaran atas cintanya kepada Allah, maka jasad ini menjadi bernilai abadi.

Kenapa demikian? Secara kulit luar, jasad ini fana, karena ia terikat dengan sunnatullah bahwa kehancuran elemen penyusun jasad pasti terjadi seiring berjalannya waktu. Namun, karena amal baik, karya kebajikan, substansi yang berada di dalam jasad menjadi abadi. Jasad tersebut meninggalkan jejak yang selalu bisa dikenang oleh generasi seterusnya. Teladan yang bisa selalu diambil hikmahnya. Kepribadian jasad tersebut menjadi tinggi serta menjadi khusus karena amalan baik yang ia lakukan. Ada bagian-bagian tertentu yang membuat ia lantas tak layak dilupakan. Mewujud selalu dalam ingatan. Itulah yang membuat para nabi, auliya’, syuhada’, ulama’ dan pahlawan sejati.. Namanya harum mengabadi dalam kenangan sejarah insani.

 Adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyaru A’laamin Nubalaa’ pernah menulis: 

Meninggal dunia syaikul Islam Ibn Taymiyah dalam kondisi membujang. Tidak memiliki anak yang melanjutkan keturunannya. Tetapi sadarilah, beliau telah meninggalkanummat shalihah yg terus mendoakannya; 

Meninggal dunia al-Imam an-Nawawy dalam kondisi membujang. Tidak memiliki keturunan yang mengenang namanya.  Tetapi ketahuilah, bahwa tiadalah muslim yg baik di hari ini, yang tidak mengenal al-’arbain an-Nawawiyah, kitabnya; 

Meninggal dunia al-Imam al-Mufassir Ibn Jarir ath-Thabary dalam kondisi bujangan. Tidak meninggalkan anak keturunan yang membanggakannya. Tetapi ingatlah, beliau telah meninggalkan karya yang selalu dibutuhkan setiap orang alim sesudahnya; 

Meninggal Imam Malik dalam derita. Selalu dipukuli dan disiksa menjelang ajalnya tiba. Sampai beliaupun pernah berucap: “sungguh aku bermohon kiranya pada setiap cambukan di tubuhku, Allah meninggikan kedudukanku satu derajat di surga-Nya”, kemudian beliau wafat, dan namanya hingga kini mengabadi dalam ingatan kita

Dimanakah mereka yg telah memenjarakan dan menyiksa Imam Ahmad bin Hambal? Mereka semuanya sirna, dan mengabadilah ilmu Imam Ahmad, sirahnya, hadist2 yang dikumpulkannya dan madzhabnya hingga saat ini; Dan di manakah mereka yang menyelisihi Imam al-Bukhari, menyiksanya dan mengusir dari tanah kelahirannya hingga beliau wafat mengenaskan, terstigma sebagai pembelot dan buronan? Dan lihatlah bagaimana kenangan kita kepadanya hari ini hingga tiada satu pun mimbar kaum muslimin kecuali terdengar dari atasnya kata “Hadits Riwayat Imam Bukhari”.

 Di akhir ujarannya adz-Dzahabi menutup dengan kalimat:

 مات قوم وما ماتت مكارمهم  وعاش قوم وهم بين الناس أموات

Binasa suatu kaum tetapi mengabadi kemuliaan2nya.. Dan hiduplah suatu kaum tetapi sesungguhnya di antara manusia mereka telah binasa.

 Kutipan dari adz- Dzahabi di atas mengikhtisari renungan ini. Bahwa, waktu yang terus melaju seiring berkurangnya jatah umur yg kita miliki, mari kita manfaatkan sebaik mungkin untuk meninggalkan karya nyata kebajikan di dalam kehidupan kita. Karena itulah yg bisa diandalkan di dalam pertaruhan antara kesementaraan dan keabadian semesta. Jika kita mampu melakukannya, maka bisa jadi jasad kita fana, namun kemuliaan kita mengabadi hingga akhirat sana. Sebaliknya, jika kita menyia-nyiakan waktu hidup kita, maka puaslah dengan kerugian besar seiring hancurnya wadag kita. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah..

 [Disarikan dari Khutbah Jum’at, Saiful Amien, di Masjid AR Fakhruddin, Universitas Muhammadiyah Malang 04 Januari 2019]

Comments

Popular posts from this blog

PILIHAN

"Hidup adalah kesediaan menerima akibat pilihan" kata seorang teman. Tidak salah. Karena dalam hidup ini manusia senantiasa dihadapkan kepada pelbagai pilihan. Mulai bangun tidur sampai beranjak ke peraduan untuk tidur kembali ia mesti menentukan banyak pilihan. Dari urusan yang remeh-temeh seperti baju apa yang akan dipakai pagi ini, sampai urusan yang paling prinsipil: kepada siapakah mesti menyembah.   Ada Akibat di Balik Pilihan Semuanya adalah pilihan. Dan setiap pilihan ada akibatnya. Besar kecilnya akibat itu bergantung kepada bobot sebuah pilihan. Manusia harus menerima atau bertanggung-jawab terhadap akibat setiap pilihannya. Baik dan buruknya akibat pilihan itu ia harus bersedia memikulnya. Al-Qur`an mencatat hal ini dalam surat Al-Zalzalah [99] ayat 7-8: " Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat   (balasan)   nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat   (balasan) n...

PAK E.. PAK E… (MEMOAR INDAH DI BKSM GONTOR)

Oleh: Faruq Jamaluddin Malik (Ustadz di PP. Darul Ukhuwwah, Malang) Di antara prinsip belajar-pembelajaran yang ditekankan oleh Pondok Modern Darussalam Gontor [PMDG] sejak dulu kala adalah apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan dilakukan oleh santri haruslah bernilai pendidikan. Mungkin itulah yang oleh orang sekarang diteoresasikan dengan istilah   learning by doing, experiential learning , dan semacamnya. Dari itu, semua santri Gontor, termasuk santri senior yakni alumni yang ditugasi mengabdi sebagai ustadz seperti saya, juga diperankan, diberi “panggung” untuk merasakan langsung prinsip   life-based learning   di atas. Dan di antara “panggung” itu buat saya adalah menjadi “ mas’ul ” [penanggungjawab] di Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat [BKSM], selain tetap harus mengajar dalam peran sebagi ustadz. Hari itu, jam mengajar saya setelah istirahat pertama. Karenanya, paginya saya gunakan untuk membersihkan dan menyirami taman bunga di area BKSM. Tiba-tiba terdeng...

DOA YANG MEREMEHKAN [1]

SUATU HARI DI AKHIR TAHUN 2008.. Di atas dipan busa kamar asrama, ia terkapar. Matanya berkaca-kaca, serasa tidak bisa menerima realita. Ingin rasanya ia menggugat namun terasa lemah tak berdaya. Bagaimana mungkin dalam sekejap namanya bisa hilang dari daftar mahasiswa baru yang berhak   mendapatkan ijin dan fasilitas ber haji musim ini? Padahal beberapa pasang mata kawan-kawan mahasiswa senegerinya sebelum magrib tiba masih   menjadi saksi kalau namanya   ikut terpampang manis di papan pengumuman. Jam tangan menunjukkan angka 08.00 malam, dua jam lagi kafilah   haji   kampusnya akan diberangkatkan menuju tanah haram, Makkah Mukarramah, dan ia bisa dipastikan tidak menjadi bagian dari mereka. Ia merasa ada yang dengan sengaja mendhalimi haknya. Ia berusaha memejamkan mata untuk menenangkan gejolak hatinya. Namun tetap saja tidak mampu mendamaikannya.   Terbayang bagaimana lelah tubuh dan sakit hatinya, mengingat kemarin malam, seusai isya’ secara mendadak i...