Skip to main content

LIBURAN ASYIK BERSAMA KELUARGA


Penulis: Riri Yunisman (Pengusaha) 

Liburan dan mengikuti sebuah trip telah menjadi sebuah kebutuhan utama saat ini. Berbagai wahana serta moda transportasi dengan segala kemudahannya seakan berlomba memberikan penawaran yang tiada henti untuk memanjakan para traveller. Berbagai media social juga tak mau ketinggalan untuk mendukung para traveller dalam mengungkapkan rasa suka cita mereka. Ulasan tentang tempat dan wahana hiburanpun tumbuh subur di dunia maya. Sehingga, sebuah perjalanan yang beribu ribu kilometer menjadi mudah dan bisa diorganisir dengan baik.

Sebagian traveler lebih suka berpergian ala “solo traveler”, karena dinilai lebih praktis dan anti ribet. Namun, menurut kami keikutsertaan anak-anak akan lebih menghidupkan suasana liburan. Canda tawa dan polah anak-anak akan menjadikan liburan semakin semarak dan penuh warna. Di samping itu, pengalaman di saat kecil akan jauh lebih berkesan dan melekat bagi anak dalam pembentukan karakter dan kemandirian.

Tentunya orang tua juga harus mempersiapkan diri untuk pengawasan ekstra terhadap anak anak dan berbagi tugas selama acara liburan. Harus siap sedia kalau tiba tiba sikecil menyelinap di keramaian, atau sikakak yang kebelet pipis  sementara adiknya masih ingin bersenang-senang di sebuah wahana hiburan, tidak menemukan tempat menginap saat malam datang,atau memesan tempat menginap yang sangat-sangat tidak nyaman bagi keluarga, atau malah  ketinggalan pesawat dan kereta karena terlambat check-in.

Semua itu dan berbagai momok menakutkan lainnya sempat mampir di pikiranku dan istri jauh hari sebelum kami mencoba untuk mengajak anak-anak untuk berlibur. Mengingat sebagian besar dari perjalanan kami akan disertai oleh bayi dan balita. Ya, bayi dan balita, karena semua anak  telah kami libatkan dalam perjalanan berhari- hari dengan jarak ratusan kilometer saat usia mereka masih belasan bulan.

Repot ???

Pastinya iya. Tapi semuanya bisa diatasi dengan beberapa persiapan kecil yang menjadikan perjalanan lancar jaya. Seperti membawa pakaian yang simple dan nyaman, persiapan kudapan dalam ransel sebagai senjata awal saat sikecil diserang lapar, menceritakan gambaran perjalanan yang akan dihadapi, dan hal-hal lain yang sepertinya remeh namun cukup ampuh dalam meredam mood sikecil saat sedang tidak baik. Kami pernah membawa satu set crayon untuk membunuh kebosanan sisulung selama dalam pesawat, pernah juga membawa selembar selimut tipis yang  jadi teman tidur si tengah dan membuatnya merasa nyaman seakan di rumah, pernah juga membawa sebuah mainan dinosaurus kecil yang selalu digenggam sibungsu sebagai sahabatnya selama di perjalanan. itu semua dalam rangka menciptakan rasa nyaman bagi anak belasan bulan dalam sebuah perjalanan yang tiap anak akan membutuhkan benda benda yang berbeda. Namun pastikan bahwa benda benda yang akan dibawa tidak akan menambah beban dan sangat ampuh untuk meredam gejolak anak anak.

Over Budget ???

Tidak. Karena biaya bepergian dengan anak-anak akan semakin lebih irit bila dibandingkan dengan saat mereka beranjak remaja. Toh bayi dan balita tidak dibebankan biaya transportasi seperti pesawat, bis dan kereta. anak di bawah 2 tahun tidak membeli tiket pesawat, anak dibawah 5 tahun tidak membeli tiket bus dan kereta serta potongan harga khusus bagi anak pada berbagai tempat wisata dan wahana hiburan. Bandingkan jika mereka beranjak remaja bahkan dewasa yang semuanya harus berbiaya penuh.

Anak-anak tidak dibebani biaya menginap dan sarapan gratisnya. Setiap perjalanan kami hanya menyewa satu kamar yang cukup nyaman untuk menampung 2 dewasa dan 3 anak. Sehingga kebersamaan dan pengawasan bisa lebih penuh, di samping biaya menginap juga jadi lebih hemat.

Di sisi konsumsi, anak anak hanya membutuhkan separo dari porsi dewasa, sehingga setiap menu yang kami pesan bisa disantap 2 anak dengan berbagi. Disamping itu kami juga selalu membawa lauk cadangan sebagai antisipasi saat tidak menemukan menu yang bersahabat dengan anak-anak.

Bagasi juga bisa menjadi lebih efisien karena pakaian anak  jauh lebih kecil dan ringan dibandingkan remaja dan dewasa. Sehingga tidak membutuhkan banyak tas dan lebih hemat di saat maskapai tidak memberikan bagasi secara Cuma Cuma

Berikut adalah hal hal yang harus dipersiapkan sebelum memulai petualangan dengan anak-anak.

1.     Kenali dan gali informasi tentang tempat yang akan dituju

Informasi tentang suatu tempat wisata sangat banyak diulas berbagai blog dan situs resmi. Seperti blog kami yang akan berusaha memberikan gambaran dan persiapan kepada keluarga  yang akan membawa anak-anak untuk berlibur bersama. Semakin banyak membaca ulasan tentang tempat tersebut, semakin jelas gambaran dan persiapan yang harus dibutuhkan. Karna umumnya blogger akan bercerita secara rinci tentang kondisi yang mereka temukan disana.

2.     Buat rencana perjalanan dan tempat serta wahana yang akan dikunjungi

Susunan rencana perjalanan yang teratur akan mengefektifkan masa kunjungan dan jumlah hari yang akan digunakan selama liburan. Beberapa traveler bahkan membuat rencana perjalanan mereka sampai ke jam per jam, termasuk lama perjalanan dalam perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Cari juga informasi tentang jam-jam atraksi dan waktu keberangkatan transportasi untuk mencapainya. Sehingga kita bisa mengatur waktu untuk rehat dan jam makan anak anak.

3.     Fahami transportasi pendukung di daerah yang dituju.

Pada banyak tempat terdapat trasportasi gratis yang disediakan untuk para wisatawan, manfaatkan saja, kan gratis, hehehe. Fahami juga jenis transportasi berbayar yang ada, bandingkan harga dan kenyamanannya. Di beberapa tempat kami memilih bis umum namun di lain tempat taxi dan transportasi dengan aplikasi menjadi pilihan utama.

Di beberapa kota kami menggunakan jaringan moda transportasi yang bisa membawa kami berkeliling kota dengan hanya membayar kurang dari setara 5 ribu rupiah, mirip trans Jakarta yang bisa keliing Jakarta seharian dengan 3.500 saja dengan syarat tidak keluar gate. Sekali lagi fahami rute dan moda trasportasi kota, dan anda bisa duduk manis ngadem seharian keliling kota dengan biaya super minim. Moda transportasi kota dan rutenya sangat banyak tersaji di internet.

4.     Temukan lokasi menginap

Tentukan lokasi yang akan anda tempati selama liburan, lokasi yang mudah dicapai dan dekat dengan moda transportasi yang akan digunakan. Lokasi yang tidak terlalu jauh dari tempat atau atraksi yang akan dikunjungi bersama anak-anak. Di samping itu ketersediaan makanan dan kenyamanan lingkungan juga harus diperhatikan. Kami pernah menginap di lokasi red zone (karena kurang informasi tentang lingkungan), sehingga beberapa kali berpapasan dengan sepasang manusia yang sedang negosiasi tarif short booking. Waduuhh.. untungnya anak-anak belum mengerti dan perhatian mereka lebih tertuju kepada gemerlap kota dibandingkan negosiasi.

5.     Tentukan Tempat Menginap

Tempat menginap bisa berupa apartemen, hotel atau rumah tinggal yang bisa dipilih dari berbagai penyedia layanan online.  Tergantung kebutuhan, ketersediaan, dan kenyamanan yang akan didapat.

Perhatikan lagi lokasi yang disertakan pada setiap tempat menginap, testimoni orang-orang yang pernah menginap, rating yang diberikan sebagai gambaran tingkat kepuasan, harga yang ditawarkan berbanding tempat menginap lainnya di lokasi yang sama dan lain lain yang dirasa perlu. Sebaiknya pilihlah tempat menginap yang minimal berbintang 3, karna kamarnya lebih luas untuk menampung seluruh anggota keluarga, selain juga ketersedian pemanas air yang sangat berguna untuk memenuhi kebutuhan sikecil.

Opsi “pembatalan gratis” juga bisa menjadi bahan pertimbangan, mengingat adanya faktor eksternal yang mungkin muncul antara waktu pemesanan dan waktu menginap yang menyebabkan kita gagal untuk menginap disana. Opsi ini juga menjadi sangat popular di kalangan traveller dalam pengurusan visa suatu negara. Mereka akan memesan sebuah hotel berkelas, dan menyertakan bukti pemesanannya sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan visa. Setelah visa didapat, pesanan tadi akan dibatalkan, lalu mereka mencari lagi hotel yang lebih murah yang tentunya lebih bersahabat dikantong.

Setelah semua informasi awal di atas telah dikumpulkan, mulailah membuat rancangan riil dari perjalan keluarga. Carilah waktu yang paling cocok untuk mengadakan perjalanan, yang disesuaikan dengan jadwal rutinitas pribadi dan anak-anak. Setelah mendapatkan tanggal yang pas, mulailah memesan sarana transportasi pergi dan pulang, tempat menginap, wahana yang akan dituju, transportasi pendukung dan lain-lain. Sedapat mungkin pesanlah semuanya sebelum keberangkatan agar gambaran perjalanan menjadi lebih terarah. Lalu cetaklah di atas kertas untuk antisipasi saat smartphone kehabisan batrei atau hilang, padahal semua bukti pemesan tersimpan di sana.

Selanjutnya….. just enjoy the happy family's trip.

Comments

Popular posts from this blog

PAK E.. PAK E… (MEMOAR INDAH DI BKSM GONTOR)

Oleh: Faruq Jamaluddin Malik (Ustadz di PP. Darul Ukhuwwah, Malang) Di antara prinsip belajar-pembelajaran yang ditekankan oleh Pondok Modern Darussalam Gontor [PMDG] sejak dulu kala adalah apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan dilakukan oleh santri haruslah bernilai pendidikan. Mungkin itulah yang oleh orang sekarang diteoresasikan dengan istilah   learning by doing, experiential learning , dan semacamnya. Dari itu, semua santri Gontor, termasuk santri senior yakni alumni yang ditugasi mengabdi sebagai ustadz seperti saya, juga diperankan, diberi “panggung” untuk merasakan langsung prinsip   life-based learning   di atas. Dan di antara “panggung” itu buat saya adalah menjadi “ mas’ul ” [penanggungjawab] di Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat [BKSM], selain tetap harus mengajar dalam peran sebagi ustadz. Hari itu, jam mengajar saya setelah istirahat pertama. Karenanya, paginya saya gunakan untuk membersihkan dan menyirami taman bunga di area BKSM. Tiba-tiba terdeng...

SEPATU BUTUT ANAKKU DAN TITAH KESEDERHANAAN ALA GONTOR

Penulis: Abdul Matin Bin Salman (Wali Santri Gontor & Warek I IAIN Surakarta) Sejak awal, saya tidak terlalu menekankan anakku diterima sebagai santri Gontor. Prinsip saya, seusai pendidikan dasar, anak-anak saya harus melanjutkan ke pesantren. Pesantren apapun itu. Karena saya yakin, tidak ada pesantren yang mendidik santrinya dengan cara yang tidak benar. Tidak mudah memang, menjadi orangtua di zaman   now . Banyak kendala waktu mendidik anak secara privat. Terlebih di zaman ketika teknologi telah merenggut banyak kesempatan kita untuk mendidik mereka secara langsung. Bahkan, sekalipun anak-anak bersama orangtua 24 jam, seringkali minim “kebersamaan” di antara mereka. Fisik memang terlihat dekat, tetapi hati dan pikiran saling berjauhan. Kekhawatiran itu semakin memuncak, ketika melihat fenomena kehidupan anak-anak seperti saat ini. Nama anakku Wael. Dia sekarang duduk di kelas IV Gontor I. Suatu hari, tepatnya tanggal 29-30 Desember 2018, kami sekeluarga mengunjunginya. Mes...

MENJADI ATAU MEMILIKI?

Membaca tulisan pendek Mardigu WP yang berjudul “INGIN AWET KAYA? Apa bedanya manusia yang “ the have ” dengan “ the rich ”?” mengingatkanku akan bukunya Erich Fromm, seorang psikoanalis sosial dari Jerman, yang berjudul To Have and To Be. Buku ini diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia oleh LP3ES. Saya mendapatkannya tahun 1996 di pasar buku bekas “Blok M”. Sebutan di kalangan mahasiswa saat itu untuk pasar ini. Diambil dari huruf pertama nama jalan di mana pasar ini berada, Jl. Majapahit, Kota Malang. Bersebelahan dengan pasar ikan, burung dan binatang, Splendid. Sekarang pasar buku seken ini dipindah ke Jl. Wilis. Pelapak langgananku ternyata juga ikut boyongan. Pak Nardi Namanya. Hingga saat ini masih jualan. Dua bulan yang lalu, saat aku mampir ke lapaknya, tampak ia mulai mengkader anak terakhirnya sebagai pelanjut. Darinyalah dahulu aku membeli buku Fromm ini. Bersama bukunya Bung Karno “Di Bawah Bendera Revolusi”. Juga beraneka edisi jadul majalah Prisma LP3ES, yang bagiku,...