Skip to main content

SEPATU BUTUT ANAKKU DAN TITAH KESEDERHANAAN ALA GONTOR


Penulis: Abdul Matin Bin Salman (Wali Santri Gontor & Warek I IAIN Surakarta)

Sejak awal, saya tidak terlalu menekankan anakku diterima sebagai santri Gontor. Prinsip saya, seusai pendidikan dasar, anak-anak saya harus melanjutkan ke pesantren. Pesantren apapun itu. Karena saya yakin, tidak ada pesantren yang mendidik santrinya dengan cara yang tidak benar. Tidak mudah memang, menjadi orangtua di zaman now. Banyak kendala waktu mendidik anak secara privat. Terlebih di zaman ketika teknologi telah merenggut banyak kesempatan kita untuk mendidik mereka secara langsung. Bahkan, sekalipun anak-anak bersama orangtua 24 jam, seringkali minim “kebersamaan” di antara mereka. Fisik memang terlihat dekat, tetapi hati dan pikiran saling berjauhan. Kekhawatiran itu semakin memuncak, ketika melihat fenomena kehidupan anak-anak seperti saat ini.

Nama anakku Wael. Dia sekarang duduk di kelas IV Gontor I. Suatu hari, tepatnya tanggal 29-30 Desember 2018, kami sekeluarga mengunjunginya. Meski diberengi hujan gerimis, dengan senang hati kami mendirikan tenda di pelataran Gedung Satelit, tepatnya di depan  Bagian Penerima Tamu. Sungguh tiada rasa kesal, capek atau mengeluh. Bahkan dua adik Wael pun ikut membantu mendirikan tenda dengan penuh bahagia. Sedangkan ibu mereka, sibuk menyiapkan makanan untuk disantap bersama Wael yang sebentar lagi akan beristirahat setelah shalat Ashar. 

Tenda pun terpasang dan siap pakai. Kami menghuni tenda kebersamaan itu dengan penuh rasa bahagia. Kami tidak sendirian. Di sekitar kami juga banyak wali santri lain melakukan hal yang sama. Kami saling bergotong royong, sangat indah dan tak ada perhitungan sedikitpun di antara kami. Tidak jarang kami saling tukar lauk atau sekedar minuman dan buah-buahan yang dibawa dari rumah masing-masing. Bagaikan satu keluarga besar yang harmoni dan menciptakan suasana kehidupan tersendiri nan unik. Suasana itu bagi kami membuat hidup lebih bersemangat dan bervariasi.

Saat dinanti itu tiba. Anakku datang ke tenda kami, setelah mencari ke sana ke mari karena saking berjubelnya tamu yang hadir hari itu. Rasa kangen kami terobati. Meski anak kami bukan termasuk anak yang berprestasi, tapi dia adalah kebanggaan kami. Mungkin warisan bapaknya yang juga tidak sepandai kawan-kawannya. Hal pertama yang kami lakukan adalah bercengkerama, saling melepas kangen. Lama saya dan istri memandangi anak kami yang sudah sebulan tidak kami jenguk. Saya lihat di wajahnya ada beban yang sedikit terlupakan dengan kedatangan kami. Kami mulai menghidangkan pesanan makanan kesukaannya yang sudah kami siapkan dari rumah. Dia nampak senang sekali, ketika melihat rendang Jawa buat ibunya. Saya lihat dia cepat-cepat mencicipinya. Sungguh tidak ada kenikmatan yang bisa kami rasakan kecuali kami harus bersyukur atas semua nikmat yang diberikan kepada kami, dan selalu berharap kiranya Allah menyempurnakannya dengan keteguhan keislaman dan keimanan kami. 

Belum lama masa kami bercengkerama dengan anak-anak di dalam tenda, jam raksasa menara Gontor berbunyi nyaring dan disusul oleh bunyi dentuman “jaros”, lonceng keajaiban di depan aula. Itu pertanda anak kami harus segera berpisah. Pertemuan kami sore itu pun selesai. Kami siap menyambut kembali anak kami pada jam makan malam, setelah shalat Maghrib dan membaca al-Qur’an. 

Bunyi lonceng kecil nyaring telah dipukul. Itu pertanda bahwa makan malam telah dimulai. Wael datang  beserta kawan-kawannya dan segera menyantap makanan yang telah dihidangkan oleh ibunya. Mereka makan lahap sekali. Lagi-lagi kami harus bersyukur karena telah ditunjukkan pemandangan indah berupa proses tumbuhnya  kebersamaan dan rasa persaudaraan di antara Wael dengan anak-anak sebayanya yang sama-sama sedang berjuang merajut masa depan gemilang. Sungguh tidak ada hal yang bisa kami ucapkan, kecuali rasa haru. Tanpa terasa air mata kami pun menetes. 

Pertemuan kami lagi-lagi terhenti saat kami mendengar lonceng berbunyi tanda para santri harus bergegas mengikuti kegiatan berikutnya, yaitu shalat Isya’. Tetapi tidak masalah dengan semuanya itu. Kami ikhlas, karena itulah proses yang sejatinya kami kehendaki. Meskipun kami juga belum begitu puas bercengkerama dengan Wael. Kami rela berkorban demi masa depan dunia dan akhirat anak kami. Toh, esok masih ada, insyaAllah kami akan bertemu dan bercengkerama kembali.

Esok hari saat matahari belum terbit, tiba-tiba anak kami datang ke tenda. Dia langsung menghampiri adik-adiknya yang belum bangun. Dengan jahil dia “nggangguin” adik-adiknya agar bangun dan bersegera shalat subuh.  Satu prilaku sederhana yang jarang kami lihat saat mereka di rumah. Mungkin itu luapan ekspresi kecintaan dan kangen yang terpendam. Saya lihat anakku sudah siap dengan baju formal untuk sekalian masuk sekolah. 

Tak lama kemudian, kawan-kawannya datang dan kami pun menyiapkan sarapan ala kadarnya. Nasi bungkus dengan pecel dan tempe khas Ponorogo. Oh ya... tidak ketinggalan krupuk sebagai pendamping seleranya. Pada saat anakku mau pamitan untuk bersekolah, saya lihat sepatunya sudah tampak jebol baik sebelah kanan maupun kirinya. Sepertinya sudah tidak layak pakai lagi. Bahkan dibandingkan dengan para pemulung, sepatu anakku terlihat jauh lebih buruk. Sungguh, jantungku rasanya mau copot melihat anakku dengan sepatu butut begitu. Ingatanku langsung tertuju pada dua tahun lalu saat Wael minta sepatu bekasku setelah beberapa kali kehilangan sepatunya. Kebetulan ukuran sepatuku sama dengan ukuran kakinya. Seketika saya tarik dia ke arahku dan memeluknya. Saya bisikkan di telinganya: “Kak, sepatu kakak diganti ya. Abuya ada sepatu bekas di mobil”. Pelukanku dilepas seraya mejawab: “Nggak usah, Buya… nanti kalau aku ganti sepatu lebih bagus khawatir tidak efektif. Lagian aku sudah nyaman dengan sepatu ini. Efektif, efisien dan praktis. Kemana saja saya pergi, saya lepas, saya tidak pernah khawatir akan kehilangan. Saya mau yang praktis saja. Karena di Gontor semua harus sesuai dengan jadwalnya”. Saya bilang: “Bukan takut hilang?” Dia menjawab: “Tidak. Hanya karena praktis dan efisien waktu”. 

Saya baru sadar, anakku telah menyerap pendidikan ala Gontor yang fenomenal itu. Bahwa, dia sedang menjalankan titah kesederhaan sebagai salah satu sunnah penting dalam pembentukan karakter di Gontor. Bangga rasanya aku memiliki anak yang cepat belajar dari proses pendidikannya. Selamat anakku sayang, engkaulah kebanggan kami sekeluarga. Semoga engkau selalu diberikan keberkahan dan kebaikan dunia dan akhirat. Semoga langkamu selalu dalam bimbingan Allah Ta’ala. Hanya doa yang bisa kami panjatkan setiap hari tanpa henti. Bersama nafas kami, engkau selalu menjadi impian kami dan umat Islam pada umumnya. Aaamiin..[]


Comments

Popular posts from this blog

JRÉNG! DAN JADILAH ORANG BESAR ALA GONTOR

Sudah sepekan. Dia tidak hadir di mushola. Padahal, sebelum adzan Magrib biasanya ia sudah tiba. Ditemani sepeda mini milik cucunya. Atau motor butut, Suzuki Bravo miliknya. Saya jadi bertanya-tanya. Khawatirku: ia sakit lagi. Panggil Saya, Jr é ng! Teringat kembali. Saat awal jumpa. Ia menungguku keluar dari mushola. Di teras, ia menyapa: “ Pak Amien, njih ?” “ Injih. Njenengan sinten ?” tanyaku sepontan. “Jr é ng!” jawabnya. “ Sinten ?” tanyaku cepat. Antara bingung dan tidak percaya. “Orang-orang memanggilku Jr é ng” jawabnya. Lalu ia menyebutkan dua atau tiga kata nama aslinya. Yang hingga saat ini saya lupa. Mungkin. Karena memoriku lebih terbetot pada kata “Jr é ng”. Yang kesan pertamanya begitu menggoda. Selanjutnya… Ia kuminta ke rumahku. Di sebelah mushola. Agar enak ngobrolnya.   Wong Deso , Pekerja Keras Diam-diam kuamati raut wajahnya. Khas orang desa. Umur di atas lima puluh limaan. Kulit agak gelap. Dan sisa-sisa pekerja keras tampak jelas di otot tangannya. Kupastika...

NGAGLIK, TAK LAGI OGLAK-AGLIK

Pulang. Selalu saja kurindukan. Ada yang bilang: Itulah ekspresi dari kesadaran batini. Bahwa hidup adalah proses perjalanan kembali. Dari dan kepada Allah, Sang Penganugerah kehidupan. Termasuk mudik lebaran kali ini. Setidaknya ada yang tak ingin dilupakan: sungkem orang tua; halal bi halal bersama kerabat seperanakan; reuni tipis teman sepermainan; dan napaktilas suasana kampung halaman. Desa tempat aku dilahirkan, namanya Ngaglik. Konon, menurut para sepuh: kapal-kapal Kompeni dahulu tidak bisa berlabuh di sini, karena terlihat dari kejauhan seperti daratan yang   iglik-iglik  (tinggi). Karenanya disebut Ngaglik.   waAllahu a’lam . Namanya juga legenda! Letak desaku sebelas kilometer dari kota Kabupaten Tuban. Ke arah timur menuju Paciran. Masih termasuk kecamatan Palang-Tuban. Sebelah utaranya langsung menghadap laut Jawa. Sebelah selatannya lahan pertambakan: ikan dan garam. Sebelah baratnya, berbatasan dengan desa Glodok. Dan sebelah timurnya, berdempetan dengan de...

MUSHALLA: DARI INSENTIF PUBLIKASI JURNAL HINGGA INSENTIF AKHIR TAHUN

Penulis: Syamsul Arifin ( Guru Besar Sosiologi Agama, Fakultas Agama Islam UMM, dan Wakil Rektor I UMM) “Pak Syamsul bangun mushalla ya?” Kawan saya, dekan pada salah satu fakultas di UMM, dugaan saya, mengetahui ihwal pembangunan mushalla dari   Display Picture   (DP) WhatsApp saya. Sejak September, tahun yang lalu, saya memang mengubah DP WhatsApp dengan poster pembangunan mushalla.   Di poster itu memang mengandung konten ajakan donasi untuk mendukung, lebih tepat disebut renovasi mushalla. Saya memang sengaja mengubah DP karena ingin melakukan “ fund rising ” dengan gaya yang disebut milenial, yakni menggunakan media sosial (medsos), kendati hanya via WhatsApp.    Pastilah beberapa kawan, kerabat, atau kenalan yang berjejaring dengan WhatsApp, iseng membuka DP lalu memberi komentar. Memang begitulah yang saya harapkan. Harapan saya berbuah seperti pertanyaan kawan di atas. “Prof, saya baru transfer untuk renovasi mushalla,” kawan saya itu mengirim kabar pad...