Skip to main content

BERSERAH


Hidup memang seringkali punya kaki sendiri. Tanda bukti bahwa memang ada Yang Maha Menjalankannya. Manusia hanya punya upaya, Dia-lah yang tetap punya kuasa. Hanya mereka yang berpandangan positif lalu berserahdiri-tawakkal kepada-Nya, yang tetap mampu melihat sisi indah dari setiap laju kehidupannya.

Teringat Yuk Nik kepada bayangan kelam adik kandungnya yang meninggal muda karena penyakit sama yang saat itu tidak cepat diketahui dan tidak intensif tertangani. Ia tidak mau itu juga terulang kepada putrinya. Karenanya, ia dan keluarga bertekad memberikan ikhtiyar terbaik bagi kesehatan fisik anaknya. Keputusan pun diambil. Sang putri harus kembali berada dekat di dalam keluarga. Dan Yuk Nik segera meminta surat keterangan pindah sekolah bagi anaknya.
Yuk Nik tidak pernah membayangkan bahwa hari itu adalah kunjungan terakhirnya ke pesantren di mana putri sulungnya belajar. Niatnya saat berangkat, hanyalah berkunjung. Ya berkunjung setelah menempuh perjalanan enam jam dari rumahnya, demi mengobati rindu seorang ibu kepada sang anak. Tidak lebih. Namun siapa sangka, itulah hari di mana ia mesti membuat keputusan berat untuk memisahkan putrinya dari pesantren yang dicintainya.

Di hari itu, ia melihat putrinya secara fisik gemuk, namun naluri keibuannya menangkap sesuatu yang tidak wajar dari aura yang dipancarkannya. Di hari kedua kunjungannya, seusai berpamitan, Yuk Nik tak kuasa memalingkan pandangan dari langkah kaki putrinya menuju asrama. Ada langkah gontai di jalan yang rata. Sekali lagi, naluri keibuannya mengisyaratkan sesuatu. Secepatnya, tanpa sepengetahuan sang putri ia mengikuti di belakangnya. Dan terjadilah! Sang putri ambruk. Secepatnya Yuk Nik menangkap jasad kecil itu sebelum menyentuh tanah. Sang putri pingsan di pangkuannya. Oleh dokter pesantren dirujuk ke rumah sakit kota sebelah yang lebih lengkap fasilitas medisnya. Di sana diputuskan langsung rawat inap. Dua pekan lamanya, karena asam lambung akut. Dokter menyarankan untuk perawatan intensif.

Sebulan sudah sang putri berada di tengah keluarga. Kesehatan fisik anaknya mulai membaik, tetapi pikirannya selalu ingin kembali ke pesantren. Bagi sang putri, pendidikan pesantren is the best. Semua usulan pindah ke SMP atau MTs terbaik dalam kota ditolak. Sampai homeschooling pun ia tidak berkenan. Yuk Nik awalnya berpikir, permasalahan ini akan selesai dengan memindahkan proses pendidikan anaknya ke sekolah terdekat. Namun, ternyata tidak sesederhana itu. Pikiran sang putri justru tertekan selama di rumah. Batinnya sudah tertambat indah di milliu pendidikan pesantren, walaupun di sana baru belajar selama tiga bulan saja.
Setelah diskusi alot, kompromipun diambil. Sang putri bersedia pindah sekolah pilihan ibu-bapaknya, tetapi setelah selesai SMP ia dibolehkan mondok kembali di pesantren yang sama. Selain itu, selama tiga tahun ke depan, ia juga diizinkan untuk muqim setiap Ramadhan di sana.

Duhai, inilah kehidupan. Sungguh kita bodoh, kemana arah diperjalankan. Ada banyak orang tua yang berkemampuan memberikan lingkungan pendidikan terbaik bagi anaknya, tetapi sang anak justru tidak sudi menjalaninya. Ada pula anak yang telah tercerahkan dengan pilihan sadar dan tekad kuat untuk menjalani proses belajar yang terbaik bagi masa depannya, tetapi justru orang tuanya yang tidak memiliki kesanggupan materiil untuk menfasilitasi, atau mungkin kesanggupan imateriil untuk berjauhan sementara waktu dengan anaknya. Ada pula, anak dan orang tua yang bersepakat dengan pilihan sadar dan tekad kuat untuk menjalani proses belajar yang terbaik, ternyata factor kesehatan fisik tidak mendukungnya. Ah, kehidupan memang tidak dibiarkan begitu saja berjalan datar tanpa ujian dan cobaan. Mungkin, agar kita belajar memadukan resep syukur dan sabar di dalamnya. Sehingga keindahan selalu dapat dirasakan ketika tiba saatnya. WaAllahu a’lam.[]

Joyosuko Metro, 06/01/2018

Comments

Popular posts from this blog

POSITIF

Menjalani kehidupan tak ubahnya menyusuri ketidakpastian. Gelap, apa kan diperoleh hari ini. Pekat, kapan dan di mana kan dimatikan   raga ini . Ketakutan, ucap Jalaluddin Rumi, adalah keengganan menerima ketidakpastian. Padahal jika diterima, kan menjadi petualangan yang mengasyikkan.. Seperti biasanya, Kang Fik menghentikan Mitsubisi Jetstar tuanya di depan warung kopi langganan di pinggir jalan pulang seusai jenguk anak di pesantren. Yuk Na, istrinya, sebenarnya tidak setuju perjalanan terhenti, karena masih lima jam jarak tempuh sampai ke rumah. Namun filosofi kopi suaminya tak bisa ia bantah. Kopi penawar kantuk, kata Kang Fik. Kalau sopirnya ngantuk, tetap terhenti pula perjalanannya. *** Di warung kopi, Kang Fik tidak menemukan Mbah Yem, perempuan tua penyedu kopi yang sebulan lalu masih ia rasakan aroma nikmat adukan wedang kopinya di sini. Ia digantikan oleh Yuk Jem. Perempuan separoh baya yang mengaku sebagai putrinya.   “Mbah Yem ke mana Yuk? Kok, Sampean yang ganti...

KEBAIKAN YANG SIA-SIA

Penulis:  Hariman Muttaqin (Pengajar di Ponpes. Al-Iman Ponorogo) Ada pengusaha keturunan yang baik hati. Dia non-muslim. Anggota keluarganya menganut keyakinan yang beragam. Istrinya Kristen, anak dan menantunya Katholik.  Sementara dia sendiri   tidak   jelas.   Namun, dalam bermasyarakat   ia   sangat toleran. Baginya keyakinan apapun   tidak   masalah ,   yang penting baik sama orang. Jika mengantar istri ke gereja, dia lebih suka nongkrong di warung kopi. Ngobrol bareng sama makelar mobil, sesuai dengan hobinya: otomotif. Tapi kedermawanannya kepada sesama   tidak   perlu diragukan. Orang berimanpun kalah bahkan   seorang k iai atau   ustadz   sekalipun. Tetangga yang   kediamannya   disita bank, dia izinkan menempati salah satu rumahnya.   Gratis, t anpa sewa. Saya   sendiri   pernah   melihat langsung   kedermawanannya   ketika d ia   mem beli sendiri sarapan p...

VERI, HIJRAH DAN KEPASTIAN

Hari Rabu, 23 Januari 2019 pukul 3:17 AM, ada pesan whatsapp masuk di handphoneku. Satu pesan di WAG “Concordian”, inisial lulusan Gontor tahun 1993, dari Veri Agustian 693: “Innalillahiwainna ilaihi Raji'un telah berpulang ke Rahmatullah Veri Agustian... Alamat rumah duka jalan musyawarah gg mufakat no.2 labuh baru barat”( Sengaja dibiarkan, tanpa edit).  Pesan duka di hari yang masih terlalu pagi, sehingga belum ada anggota WAG yang daring. Selain itu, redaksinya juga terlalu datar untuk sebuah info sedih. Emosinya kurang terasa, dan terkesan aneh: menginformasikan wafatnya seseorang, dan informannya adalah orang yang meninggal itu sendiri. Wajarlah kiranya, jika baru sebelas menit kemudian, 3:28, Sirojuddin di Cirebon yang pertama menangkap pesan ini dengan pertanyaan singkat, mericeck sumber: “Ini dengan siapa?”.  Pukul 3:32, Zuli Umri di Bandung mempertegas kebimbangan: “Veri Agustian Riaukah? إنا لله وإنا إليه راجعون”.  3:42, Sirojuddin kembali menvalidasi sumber b...